Minggu, 01 Februari 2009

Sakaratul Maut

Apa yang dapat kita bayangkan ketika ada seorang pemuda yang ganteng, sehat, dan perkasa tiba-tiba diberi vonis oleh seorang dokter bahwa dalam tubuhnya tumbuh kanker ganas ?. Andaikata hal itu menimpa kita sendiri ?. Semangat yang tadinya berkobar tiba-tiba bisa padam. Hilang seluruh harapan. Musnah semua cita-cita. Dunia seakan berhenti seketika.
Apa yang sedang kita takutkan dengan penyakit kanker tersebut ?. Jawabnya sudah hampir pasti adalah kematian. Semua orang takut mati, bahkan seluruh makhluk hidup takut datangnya kematian itu. Mulai dari makhluk terkecil semisal semut hingga yang terbesar seperti gajah, semua takut mati. Andaikata mati itu berwujud makhluk tentu akan dilawan, sebagaimana mereka melawan setiap orang yang mencoba mengganggu kehidupannya. Andaikata bisa dihindari, tentu semua makhluk akan berusaha menghindarinya. Anas Radhiallaahu `anhu meriwayatkan hadits Rasulullah Saw :”Anak Adam tidak menemui sesuatu yang diciptakan Allah melebihi hebatnya maut, padahal maut itu merupakan peristiwa yang paling ringan dibandingkan dengan kejadian-kejadian sesudahnya.” (HR.Ahmad)
Takut kepada kematian adalah naluri semua makhluk hidup, sifatnya sangat alami. Bayangan kematian merupakan bayangan yang paling menakutkan. Di dunia ini tidak ada yang paling menakutkan melebihi kematian. Seandainya tidak ada kematian, tidak ada sesuatupun yang ditakuti. Resiko tertinggi di dunia ini adalah mati, tidak ada yang melebihinya lagi. Seorang penguasa yang paling berkuasa sekalipun akan merasa hina dan nista di depan kematian. Ia merasa kecil dan kerdil, karena kedatangannya tanpa permisi apalagi meminta izinnya. Jika Allah telah menetapkan ajalnya, malaikat mautpun siap menjemputnya, tanpa ada kompromi. Kekuasaan, kekayaan, prajurit, teman, kerabat, dan segala yang ada di dunia ini, tak ada yang bisa mencegah kematian.
Fir’aun sepanjang hidupnya tidak pernah mau mengakui kekuasaan Tuhan melebihi kekuasaannya, bahkan ia sendiri mengaku sebagai Tuhan. Akan tetapi pada penghujung hidupnya, pada saat-saat kritis ketika akan tenggelam dalam lautan setelah mengejar pasukan Bani Israel (Nabi Musa AS dan pengikutnya), Fir’aun berseru kepada Allah, mengakui ke-Esaan-Nya, berserah diri kepada-Nya. Fir’aun yang sangat ber kuasa di dunia akhirnya merasa kerdil di depan al-Maut.

Al-Ma’mun, seorang khalifah yang sangat luas wilayah kekuasaannya. Di penghujung kehidupannya ia sadar bahwa sebentar lagi malaikat maut segera datang menjemput. Kesadarannya terhadap kepastian mati itu tak pernah diragukan, namun ia tetap takut dan gelisah menghadapinya. Itulah sebabnya ia perintahkan kepada bawahannya untuk mengusungnya ke markas militer. Saat itu malam hari, obor-obor dinyalakan dari berbagai sudut sehingga membuat suasana magis yg menggetarkan setiap orang yang ada di tempat itu. Di tengah hamparan padang pasir yang luas itu, al-Ma’mun merasakan harapan dan cita-citanya terbang bersama angin. Ia sadar bahwa kekuasaan dan kemuliaannya di dunia tidak mendatangkan manfaat sedikitpun pada saat-saat seperti itu. Dengan segala kepasrahan dalam ketidakberdayaannya, ia menengadahkan tangannya tinggi-tinggi sambil berdo’a :”Wahai Dzat yang kekuasaan-Mu senantiasa langgeng dan kekal, kasihanilah hamba-Mu yang kekuasaannya akan hilang dari tangannya.”
Sampai di sini, ada satu pertanyaan yang mesti dijawab, apakah sebenarnya yang ditakutkan oleh manusia pada kematian itu ?. Jawabnya bisa beragam, tapi yang pasti bahwa yang paling ditakutkan manusia dari kematian adalah kesirnaan dan ketiadaan. Mereka takut kehilangan, teman, kekasih, anak, orang tua, harta benda, kemuliaan, kekuasaan, dan segala hal yang bersifat duniawi. Mereka takut berpisah dengan semua yang dimiliki di dunia ini. Sesungguhnya manusia telah lama membangun istana harapan dan cita-cita dalam jiwanya. Dengan susah payah mereka mengumpulkan satu per satu komponen bangunan itu, kemudian pelan-pelan merakitnya. Akan tetapi dengan kedatangan al-Maut, semua bangunan itu tiba-tiba roboh, hancur berkeping-keping. Kematian tak ubahnya seperti bom yang menghancurkan segala-galanya, termasuk istana bayangan yang telah dibangun oleh jiwa manusia. Jika istana yang dibangun dalam jiwa manusia itu hanyalah istana harapan dan impian, tentu rapuh dan mudah runtuh. Sekali datang al-maut, sirna dan hancurlah semuanya. Akan tetapi jika manusia membangun istana dalam jiwanya dengan bahan baku iman dan akhlaqul karimah, maka bangunan itu tak akan pernah roboh oleh kematian sekalipun. Kematian tidak berpengaruh sedikitpun pada mereka.
Bagi orang-orang yang disebutkan terakhir ini, kematian tidak lebih dari sekadar perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. Ibarat orang-orang metropolitan yg super sibuk, mereka memerlukan waktu khusus “week end” untuk rekreasi, melupakan pikiran tentang pekerjaan, meninggalkan kepenatan ibu kota, meninggalkan rumah dan segala tradisinya. Mereka benar-benar menginginkan suasana baru, di alam yg baru. Bagi orang-orang seperti ini, kematian sama sekali tidak menakutkan. Beban yang diderita mereka yang sedang dalam sakaratul maut itu luar biasa. Rasa sakit yang dideritanya cukup berat, apalagi pada detik-detik terakhir ketika malaikat maut sudah mulai menjalankan operasinya. Semua nabi dan Rasul kekasih Allah ikut juga merasakannya, tak terkecuali Muhammad saw. `Aisyah menceritakan bahwa di saat sakaratul maut, di samping Rasulullah ada bejana berisi air, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana itu, sambil berdo’a :”Ya Allah, tolonglah aku dari sakaratul maut ini.” (HR. Nasa-i, Ibnu Majah, Ahmad, dan Tirmidzi)

Jika orang yang setabah Nabi Muhammad Shallallaahu `alaihi wa sallam saja sampai meminta pertolongan pada saat menghadapi sakaratul maut, apalagi orang lain yang tidak memiliki mental baja seperti beliau. Ini adalah gambaran bahwa sakaratul maut itu memang luar biasa beratnya. Beban sakit yang luar biasa itu akan semakin bertambah dan berlipat-lipat manakala sikap mental seseorang tidak siap menghadapinya.
Yang bisa menolong seseorang menahan rasa sakit pada peristiwa sakaratul maut adalah mentalitasnya. Mereka yang menolak kematian tentu lebih berat penderitaannya, sedangkan mereka yang pasrah, apalagi yang menyambutnya dengan penuh persiapan, tentu dapat merasakan penderitaan itu lebih ringan. rasa sakit yang sangat itu bisa dikalahkan dengan harapannya kepada Allah akan kehidupan yang lebih baik, lebih kekal, dan lebih membahagiakan. Sepanjang masih ada harapan bahwa kehidupannya di akhirat lebih baik dari yang dirasakan di dunia ini, maka segala rasa sakit dan kepedihannya akan terobati oleh bayangan surga, dan kehidupan yang lebih baik tersebut.

Lain halnya bagi mereka yang tidak punya harapan akherat, kematian merupakan qiyamat baginya. Kematian adalah akhir segala-galanya, padahal bagi orang-orang kafir, kematian sesungguhnya adalah awal penderitaan yang berkepanjangan, bahkan selama-lamanya. Orang-orang shalih yang telah mempersiapkan hari kematiannya dengan baik tak terlalu khawatir dengan kematian itu. Mereka rileks menghadapinya, sampai pada detik-detik akhirnya. Rasulullah sangat tenang ketika al-Maut menjemput, bahkan beliau tetap bisa menghibur putrinya, Fathimah yang kelihatan kurang rela melepaskan kematian ayahnya. Beliau bersabda: “Wahai putriku, telah datang kepada ayahmu keputusan Allah yang tiada seorangpun dapat menolaknya hingga hari qiamat.” (HR. Ahmad)
Rasulullah bahkan seolah tak menghiraukan kematian itu, sehingga sampai pada detik-detik akhir hayatnya, beliau tetap menjalankan tugas kerasulannya dengan menyampaikan fatwa-fatwa penting sebagai pengingat kepada ummatnya. Beliau mengingatkan ummatnya agar tetap memelihara shalat, melindungi kaum perempuan, dan berbagai wasiat penting lainnya. Orang-orang mulia seperti Rasulullah Saw melihat bahwa kematian bukan akhir dari segala-galanya, bukan pula keterpisahan dan ketiadaan, akan tetapi kematian adalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain. (sumber : hidayatullah)

http://www.aldakwah.org/modules.php?name=News&file=article&sid=537
note : Al Hubb Fillah wa lillah, ikatlah ilmu dengan menulis dan mengamalkannya.

“Sebagaimana Kami memulai setiap kejadian, demikian pula caranya Kami mengembali kannya (mengulanginya). Itulah janji Kami, dan Kami akan tepati janji itu”
(QS.Al Anbiya’ : 104)

waspada sakaratul maut

Setan laknatullah dan iblis laknatullah akan sentiasa mengganggu manusia, bermula dengan memperdayakan manusia dari setitik mani hinggalah ke akhir hayat kita, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Ada tujuh macam golongan gangguan iblis dan setan saat sakaratul maut tiba :

Ya Allah aku berlindung dengan Engkau daripada perdayaan syaitan di waktu maut

  1. Akan datang iblis dengan berbagai rupa yang aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat
  2. Akan datang iblis dengan rupa binatang yang di takuti seperti, harimau, singa, ular dan kala yang berbisa.
  3. Akan datang iblis menyerupai binatang yang disukai orang yang hendak mati
  4. Akan datang iblis dengan menyerupai musuh ketika kita masih hidup
  5. Akan datang iblis menyerupai saudara kita
  6. Akan datang iblis menyerupai ulama-ulama
  7. Iblis datang dengan 72 barisan. Saat Nabi Muhammad SAW wafat, umat manusia akan terbagi menjadi 73 golongan. Satu golongan ahli sunnah waljamaah dan 72 yang lain nantinya masuk ke neraka jahanna

Ketahuilah bahwa iblis akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam di saat Sakaratul Maut. Oleh itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hampir meninggal dunia untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan iblis laknatullah dan syaitan laknatullah yang akan berusaha bersungguh-sungguh mengacau orang yang sedang dalam Sakaratul Maut.

Ajarkan oleh kamu (orang yang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa ilaaha illallah

Lokasi Sejarah
Situs Purbakala Buni, Peradaban Tertua di Pantai Utara Jawa Barat

Karawang, Kompas - Penelitian yang dilakukan di situs percandian di Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, menghasilkan temuan cukup penting, yaitu fosil manusia. Bukti penemuan tersebut dinilai semakin menjelaskan peradaban tua di wilayah pantai utara Jawa Barat.

Sejak pertengahan 2005 hingga Juli 2006 lalu, telah ditemukan sebanyak 32 individu fosil manusia di bawah struktur bata di sekitar Situs Batujaya. Sembilan individu di antaranya ditemukan pada penggalian tahun 2005.

Fosil manusia tersebut menunjukkan ciri tengkorak bundar sedang, dahi bulat dengan rongga mata tinggi dan persegi, serta mulut menonjol. Keseluruhan ciri itu menunjuk pada ras Mongoloid. Mereka diduga turunan dari koloni Austronesia yang bermigrasi dari utara, yaitu sekitar Kalimantan dan Taiwan.

Individu tersebut kemudian disebut sebagai manusia buni. Buni adalah nama sebuah kampung di tepian Kali Bekasi, tempat pertama ditemukan benda-benda arkeologi sisa kegiatan manusia seperti beliung persegi yang terbuat dari batu terupam halus, tembikar, manik-manik berbahan kaca, gelang batu, serta perkakas logam.

Sonny C Wibisono, peneliti yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Data dan Publikasi Pusat Penelitan dan Pengembangan Arkeologi Nasional, mengatakan, manusia itu diperkirakan hidup dalam kurun waktu 200 tahun sebelum hingga 200 tahun sesudah Masehi. Perkiraan itu lebih tua dari umur candi yang dibangun sekitar abad ke-5 hingga ke-6 Masehi.

"Kami sedang menunggu hasil uji karbon C-14 di laboratorium untuk mengetahui umurnya. Individu-individu yang ditemukan itu diduga sebagai kelompok masyarakat yang membina bangunan candi karena kompleks bangunan suci biasanya tidak berdiri begitu saja. Ada manusia yang membangun dan membinanya," Sonny menambahkan.

Ia mengatakan, hasil penelitian pertanggalan dari beberapa laboratorium menunjukkan bahwa bangunan-bangunan situs di Batujaya memperlihatkan rentang waktu abad ke-5 hingga ke-6 Masehi. Hal itu berarti bahwa situs-situs tersebut merupakan bangunan tertua yang ditemukan di Jawa.

Sadar sejarah

"Ketika hasil penelitian sudah final, kami berharap warga semakin sadar akan pentingnya melestarikan benda-benda itu," ujar Uar Warliyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Penerangan, Pariwisata, dan Budaya Kabupaten Karawang, Kamis (12/10).

Lahan di beberapa kompleks candi sudah dibebaskan untuk mencegah kerusakan. Pemerintah daerah setempat juga terus membangun infrastruktur agar akses menuju tempat bersejarah itu semakin mudah dan cepat. (MKN)

Dalam salah satu sajak Chairil Anwar yang terkenal yaitu “Antara Karawang dan Bekasi” diekspresikan bahwa Bekasi merupakan daerah perjuangan kemerdekaan pada masa itu dan untuk mengenang itu didirikan tugu perjuangan di Kota Bekasi.

karawang2KABUPATEN KARAWANG
Jarak antara Jakarta-Kerawang yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau pribadi adalah 59 km, dan dari Bandung 79 km. Kabupaten Karawang merupakan dataran rendah yang dihampari persawahan. Karena Karawang memang merupakan lumbung beras propinsi Jawa Barat. Selain persawahan di daerah ini terdapat pula perkebunan seta pertambakan udang dan bandeng. Dataran ini mempunyai suhu 30o C dengan ketinggian sekitar 50-125 meter diatas permukaan laut.
Kabupaten ini memiliki motto: Karawang Pangkal Perjuangan, sebab daerah ini pernah menjadi basis perjuangan untuk merubut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Rengasdengklok, umpamanya merupakan tempat kebulatan tekad untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan peristiwa ini diabadikan dengan dibangunnya sebuah tugu di atas bekas markas PETA (Pembela Tanah Air). Disampingitu disini terletak pula sebuah rumah milik Djian Kie Siong bekas tempat tinggal sementara proklamator kemerdekaan Republik Indonesia : Soekarno-Hatta.
Oleh karena penduduk Karawang merupakan pendatang dari berbagai daerah, maka hal ini mempengaruhi berbagai ragam kesenian. Pertunjukan kesenian yang dapat ditampilkan disini amat banyak ragamnya seperti : wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu, jaipongan, pencak silat, sintren, kliningan tanji, reog, calung, degung, ngajantuk, dan berokan. Pertunjukan kesenian-kesenian ini biasanya ditampilkan bila ada hajatan atau sehabis panen padi yang berhasil. Yang paling populer adalah kesenian banjet, yaitu semacam drama yang diseligni dengan nyanyian-nyanyian.
Ada lagi upacara tradisional yang sangat unik, yaitu upacara penikahan dimana calon pengantin diarak keliling dengan tanji. Di kabupaten ini terdapat pula daerah wisata alam yang menarik, diantaranya: Curug Santri, Curug Lalay, dan Curug Cibayat yang terletak di Kecamatan Pangkalan; Situ Kamojang di Kecamatan Cikampek dan Cekdam Kiarajaya yang terletak di Kecamatan Telukjambe. Sedangkan wisata pantai antara lain di Pantai Cemara, Pantai Sedari yang terletak di Kecamatan Pedes, Pantai Pasir Putih yang terletak di Kecamatan Cilamaya, dan wisata alam lain adalah Bendungan Walahar.


subangKABUPATEN SUBANG
Subang dapat dicapai melalui jalan darat dari Jakarta dengan jarak 150 km dari Bandung 65 km. Sarana transportasi, kantor pos dan telekomunikasi serta kelengkapan untuk kelancaran dan kebutuhan wisatawan pada umumnya baik. Jalan penghubung terdiri dari jalan negara, jalan propinsi dan jalan kabupaten yang umumnya terawat baik.
Kabupaten Subang terletak antara 0-1.500 meter di atas permukaan laut. Subang seperti banyak kabupaten di Jawa Barat, termasuk daerah yang subur, baik untuk lahan pertanian, peternakan, perkebunan maupun perikanan.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA


ciaterSari Ater
Terletak di Desa Ciater Kabupaten Subang 32 km dari Bandung sebelah utara atau 8 km dari Tangkuban Perahu, dapat dicapai oleh semua jenis kendaraan dalam waktu 45 menit dengan rute Bandung-Lembang-Ciater.
Ciater merupakan salah satu obyek wisata air panas yang sama halnya dengan Maribaya, mempunyai beberapa kolam air panas yang mengandung kadar yodium dan belerang, bersumber dari Kawah Gunung Tangkuban Perahu.
Fasilitas di Ciater lebih lengkap, seperti tersedianya sarana akomodasi, restaurant, lapangan tenis dan arena untuk Camping Ground yang meliputi luas keseluruhan 76 ha.


Pantai Pondok Bali
Pantai Pondok Bali terletak di sebelah uatra kota Subang merupakan keindahan pantai utara Jawa Barat. Pantai dengan ombaknya yang tenang, memungkinkan untuk atraksi pantai seperti memancing, rekreasi pantai, berlayar dan kemping.

Gotong Sisingaan
Merupakan jenis kesenian terkenal tidak saja di Indonesia akan tetapi di dunia Internasional. Kesenian Gotong Singa telah membawa nama Kota Subang menjadi terkenal. Setiap tahun di kota ini diadakan festival gotong singa.

Pantai “Candra Wulan”
Pantai Candra Wulan ini terletak 48 km dari Kabupaten Subang dengan ujung pantai muara yang mejorok ke tengah. Maka pantai Candra Wulan merupakan teluk sejauh 2 km, sedangkan dam teluk itu terdapat pulau kecil sepanjang 1 km dengan lebrnya tidak lebih dari 10-20 meter.


bekasiKABUPATEN BEKASI
Kabupaten Bekasi di batasi di Utara oleh laut Jawa, di selatan oleh Kabupaten bogor, di Timur oleh Kabupaten Karawang dan di Barat oleh DKI Jakarta.
Geografis, Kabupaten Bekasi terletak pada 106o48’79” Bujur Timur dan 6o10’-6o30’ Lintang Selatan. Jarak terjauh Utara-Selatan 46,8 km dan Barat-Timur 33,8 km. Kesenian daerah Bekasi dipengaruhi oleh kesenian-kesenian daerah Cirebon, Indramayu, Karawang dan Jakarta.

OBYEK DAN DAYA TARIK WISATA

Kesenian-kesenian dari Bekasi, misalnya Tanjidor, topeng Tambun, Borongan, Lenong, Wayang Kulit Tambun, Tarling dan Genjring.

Cihargem Puncak ( Bandung Utara )
Lokasi :

Ciburial



Masih pagi buta ketika saya dan Bowo Sutrisno memacu sepeda motor meninggalkan kampus UPI di Ledeng, menuju suatu tempat yang lebih sunyi di Bandung Utara. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (Dago Pakar) masih sangat sepi ketika kami lewati. Kendaraan terus bergerak ke utara hingga memasuki wilayah Ciburial, jalan menanjak dan berkelok-kelok tajam, lahan gundul miskin pepohonan terhampar di kiri-kanan jalan. Dari ketinggian, nampak Kota Bandung yang masih berselimut kabut tebal.

Kami berhenti di sebuah kampung bernama Cihargem. Rumah-rumahnya tak terlalu banyak, asri, tenang dalam suasana yang menyejukkan. Seorang laki-laki tua bersikap ramah ketika kami menitipkan kendaraan. Dari kampung itu kami berjalan sejauh seratus meter mengikuti jalan setapak yang membelah hutan pinus, menuju sebuah puncak kecil yang sekaligus merupakan bibir jurang berbatu yang sangat curam. Di puncak tersebut, seseorang tengah memasang baling-baling bambu berukuran besar. Sesaat kemudian baling-baling itu telah berputar ditiup angin yang berembus kencang.

Tak banyak yang pernah berkunjung ke tempat ini. Tak banyak yang tahu bahwa dari Cihargem Puncak, seseorang bisa berfantasi seolah mereka tengah berada di kawasan hutan berdaun jarum di luar negeri. Tak banyak yang pernah berdiri sambil merasakan angin yang tak berhenti menerpa tubuh, dan kadang-kadang tiupannya menjadi kencang sehingga harus cepat-cepat mencari pegangan agar tak kehilangan keseimbangan, lalu jatuh bebas ke dalam jurang + 200 meter yang biasanya berkabut. Cihargem Puncak merupakan bagian dari jalur Patahan Lembang. Dari sana, terlihat jelas Gunung Bukit Tunggul, Burangrang dan Tangkubanparahu. Barisan pohon pinus menciptakan pemandangan serba hijau, sehingga mata menjadi sangat segar dan tak pernah berhenti memandang. Di antara kehijauan, dinding–dinding batu Patahan Lembang menampakkan wujudnya yang tegak dan kokoh, sejajar dengan aliran Ci Kapundung yang meliuk-liuk indah di dasar lembah. Sungguh sebuah komposisi alam yang membuat orang enggan untuk beranjak.

Dari puncak, ternyata ada celah-celah batu yang membentuk jalan sagat tipis ke arah bawah. Dan dengan sangat hati-hati kami melangkahkan kaki di jalan ini. Kami turun ke sebuah teras di mana kami bisa menikmati komposisi keagungan itu dengan lebih jelas. Tentu ada rasa takut ketika menyadari bahwa saat itu kami berada di lekukan sebuah tebing berbatu. Tetapi kami lebih merasa nyaman karena berada di bumi yang mengagumkan. Pagi terasa hangat, dan kami menikmatinya dengan secangkir teh dan beberapa batang sigaret kretek. Di puncak, baling-baling berputar lebih keras.

Sejak kunjungan pertama, Cihargem Puncak telah menjadi salah satu tempat favorit saya di Bandung Utara. Namun, yang bisa saya lakukan tentu sebatas mengunjunginya, menikmatinya, berbagi cerita, dan berdoa agar kelak masyarakat sekitar bisa menikmati jasa dari kelestariannya. Tempat itu tak hanya menjanjikan keindahan, tetapi memberi kesempatan untuk belajar dan berpikir lebih jauh tentang tanda-tanda alam yang pada akhirnya bisa menggugah kesadaran spiritual. Semoga hukum bisa ditegakkan, alam dilestarikan, dan hidup menjadi lebih diuntungkan!

Gunung Tangkuban Parahu

Tangkuban Perahu

Tinggi 2,084 meter (6,837 kaki)
Letak Jawa Barat, Indonesia
Koordinat -6.77, 107.6
Jenis Stratovolcano
Letusan terakhir 1983[1]
Rute pendakian termudah hike
Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter. Bentuk gunung ini adalah Stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Jenis batuan yang dikeluarkan melalui letusan kebanyakan adalah lava dan sulfur, mineral yang dikeluarkan adalah sulfur belerang, mineral yang dikeluarkan saat gunung tidak aktif adalah uap belerang. Daerah Gunung Tangkuban Perahu dikelola oleh Perum Perhutanan. Suhu rata-rata hariannya adalah 17oC pada siang hari dan 2 oC pada malam hari.

Gunung Tangkuban Parahu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Legenda rakyat setempat

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Legenda Sangkuriang

Asal-usul Gunung Tangkuban Parahu dikaitkan dengan legenda Sangkuriang, yang dikisahkan jatuh cinta kepada ibunya, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat supaya Sangkuriang membuat perahu dalam semalam. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik. Perahu inilah yang kemudian membentuk Gunung Tangkuban Parahu.

Gunung Tangkuban Parahu ini termasuk gunung api aktif yang statusnya diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Beberapa kawahnya masih menunjukkan tanda tanda keaktifan gunung ini. Diantara tanda gunung berapi ini adalah munculnya gas belerang dan sumber-sumber air panas di kaki gunung nya diantaranya adalah di kasawan Ciater, Subang.

Keberadaan gunung ini serta bentuk topografi Bandung yang berupa cekungan dengan bukit dan gunung di setiap sisinya menguatkan teori keberadaan sebuah telaga (kawah) besar yang kini merupakan kawasan Bandung. Diyakini oleh para ahli geologi bahwa kawasan dataran tinggi Bandung dengan ketinggian kurang lebih 709 m diatas permukaan laut merupakan sisa dari letusan gunung api purba yang dikenal sebagai Gunung Sunda dan Gunung Tangkuban Parahu merupakan sisa Gunung Sunda purba yang masih aktif. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada Gunung Krakatau di Selat Sunda dan kawasan Ngorongoro di Tanzania, Afrika. Sehingga legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat kawasan itu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung sunda purba terhadap peristiwa pada saat itu.


KAWAH PUTIH


Di Bandung Selatan, ada beberapa obyek pariwisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Diantaranya adalah Kawah Putih dan Situ Patengan (orang sering menyebutnya Situ Patenggang). Dikarenakan jaraknya yang cukup jauh dari kota Bandung,sekitar 2,5 jam, disarankan jika Anda hendak mengunjungi tempat di Bandung Selatan ini, lebih baik ke beberapa tempat sekaligus, agar perjalanan Anda lebih efisien.

Kawah Putih

Tempat ini berada di daerah Ciwidey. Pemandangannya cukup indah, udaranya dingin. Di atas gunung, terdapat hamparan pasir berwarna putih, dan ditengahnya terdapat danau berwarna hijau, suatu pemandangan yang cukup kontras. Bahkan saat saya kesana, ada sepasang pengantin yang sedang mengambil foto untuk pre-wedding.

Tempat yang indah ini kabarnya ditemukan oleh seorang Belanda yang bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuh. Beliau tidak percaya dengan cerita penduduk sekitar yang mengatakan daerah gunung patuha tersebut angker, karena tempat tinggal jin dan mahluk halus. Sehingga tidak ada binatang yang lewat bahkan burung yang terbang melintasi saja bisa mati. Ternyata ditemukan adanya danau, yang didalamnya terdapat semburan belerang, sehingga binatang tidak suka dengan bau tersebut.

Di dekat pintu masuk terdapat beberapa saung, sehingga kita dapat beristirahat dengan rileks dengan suasana yang tidak pernah kita dapatkan di kota-kota besar. Harga tiket masuknya cukup murah, Rp 3.500 / orang, ditambah Rp 3.000 untuk mobil. Memang di tempat ini tidak terdapat fasilitas yang lengkap, hanya sekedar menjual pemandangan yang ada. Sayang sekali, seharusnya ini dapat menjadi tempat pariwisata yang sangat menarik jika dikelola secara serius oleh pemerintah daerah.


Situ Patengan
Situ Patengan Dari Kawah Putih, kita dapat meneruskan perjalanan kita menuju Situ Patengan. Taman wisata ini lebih ramai dibandingkan Kawah Putih, mungkin disebabkan fasilitas yang ada lebih banyak. Luas taman wisata ini 17 ha, sedangkan luas danaunya 48 ha. Di tengah danau itu terdapat pulau kecil yang dinamakan pulau Asmara, karena berbentuk hati.

Situ Patengan, berasal dari bahasa Sunda, “Pateangan-teangan” yang artinya saling mencari. Dikisahkan dulu ada sepasang sejoli yaitu Ki Santang dan Dewi Rengganis yang saling mencintai. Mereka berpisah sekian lamanya, dan saling mencari. Akhirnya mereka bertemu di tempat yang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis pun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (pulau Asmara/pulau Sasaka).

Batu Cinta di Pulau AsmaraKonon kabarnya, untuk pasangan yang mengelilingi pulau Asmara dan singgah ke batu Cinta akan mendapatkan cinta abadi seperti pasangan tersebut. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kami pun menyewa perahu dan memutari pulau dan singgah ke batu Cinta. Di perjalanan, tukang perahu tersebut menceritakan pula bahwa pulau Asmara tersebut angker, dan hanya boleh disinggahi oleh pengunjung jika sudah mendapat ijin dan ditemani oleh sang juru kunci. Sayang sekali banyak tangan jahil yang meninggalkan coretan-coretan di tempat-tempat wisata yang indah ini. Tiket masuknya sedikit lebih mahal dibandingkan Kawah Putih, tapi saya lupa harga pastinya.

Nah tertarik untuk berkunjung ke Bandung Selatan ?
Salam jalan jajan hemat.